Paper Bisnis Kehutanan
BISNIS EKOWISATA AIR TERJUN LAE SIMBILULU
Dosen Penanggungjawab :
Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si.
Disusun Oleh :
Khofifah Triwardani Manik
181201025
MNH 6
PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
20 21
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis ucapkan kepda Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan karunia- Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan paper ini dengan baik dan tepat waktu. Paper mata kuliah Bisnis Kehutana yang berjudul “Ekowisata di Air Terjun Lae Simbilulu” ini di tulis untuk melengkapi tugas mata kuliah Bisnis Kehutanan.
Penulis mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang membantu, terutama dosen penanggungjawab Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si. sebagai pembimbing sekaligus informan yang dengan sabar telah meluangkan waktu untuk membimbing dan mengarahkan. Penulis menyadari bahwa paper Bisnis Kehutanan ini masih banyak kesalahan dalam penulisan. Oleh karena itu, penulis akan berusaha semaksimal mungkin untuk memperbaikinya. Penulis juga sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca. Semoga Paper Bisnis Kehutanan ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.
Medan, Maret 2021
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR ISI ....................................................................................................... i
KATA PENGANTAR ....................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang...................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah................................................................................. 2
1.3 Tujuan.................................................................................................... 2
BAB II ISI
2.1 Kondisi Umum air terjun Lae Simbilulu ............................................... 3
2.2 Perkembangan Sektor Pariwisata di air terjun Lae Simbilulu ............... 4
2.3 Bisnis yang Dapat Dijalankan .............................................................. 5
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan.............................................................................................. 6
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Rumusan ekowisata pertama kali dikembangkan oleh Hector Ceballos-Lascurain pada tahun 1987 yaitu: “ Nature or ecotourism can be defined as tourism that consist in travelling to relatively undisturbed or uncontaminated natural areas with the spesific objectives of studying, admiring, and enjoying the scenery and its wild plants and animals, as well as any existing cultular manifestation (both past and present) found and the areas ”. Kemudian pada awal tahun 1990 disempurnakan oleh The International Ecotourism Society (TIES) yaitu sebagai berikut: “ Ecotourism is responsible travel to natural areas which conserved the environment and improves the walfare of local people ”. Ekowisata adalah perjalanan yang bertangggung jawab ketempat-tempat yang alami dengan menjaga kelestarian lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan penduduk setempat (Herman dan Supriadi, 2017).
Salah satu pengelolaan hutan yang diyakini baik oleh para pakar pembangunan maupun konservasi mampu memberikan manfaat ekonomi, sosial dan budaya secara berkelanjutan adalah ekowisata. Ecotourism atau ekowisata adalah salah satu mekanisme pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development). Ekowisata merupakan usaha untuk melestarikan kawasan yang perlu dilindungi dengan memberikan peluang ekonomi kepada masyarakat yang ada disekitarnya. Konsep yang memanfaatkan kecenderungan pasar back to nature ini merupakan usaha pelestarian keanekaragaman hayati dengan menciptakan kerja sama yang erat antara masyarakat yang tinggal disekitar kawasan yang perlu dilindungi dengan industri pariwisata. Ecotourism atau ekowisata adalah gabungan konservasi dan pariwisata dimana pendapatan yang diperoleh dari pariwisata seharusnya dikembalikan pada kawasan yang perlu dilindungi untuk perlindungan dan pelestarian keanekaragaman hayati serta perbaikan sosial ekonomi masyarakat disekitarnya (Priono, 2012).
Salah satu bentuk produk pariwisata sebagai turunan dari konsep pembangunan pariwisata yang berkelanjutan adalah konsep pengembangan ekowisata. Ekowisata ini lebih dari sekedar kelompok pecinta alam yang berdedikasi, sebagai gabungan berbagai kepentingan yang muncul dari keperdulian terhadap masalah sosial, ekonomi dan lingkungan. Bagaimana membuat devisa masuk kembali sehingga konservasi alam dapat membiayai dirinya sendiri merupakan inti dari cabang baru ilmu ekonomi hijau pembangunan berkelanjutan ini. Ekowisata menawarkan kesatuan nilai berwisata yang terintegrasi antara keseimbangan menikmati keindahan alam dan upaya melestarikannya. Ekowisata ini dapat berperan aktif di dalam memberikan solusi dalam menyelesaikan permasalahan yang mungkin terjadi dalam pengembangan kawasan pariwisata. Fokus utama dari pengembangan model ekowisata tersebut didasarkan atas potensi dasar kepariwisataan dimana kelestarian alam dan budaya dikedepankan (Haryanto, 2014).
Untuk mengembangkan sebuah kawasan Ekowisata diperlukan peran Pemerintah yang bekerja sama dengan penduduk local. Salah satu hal yang harus dilakukan Pemerintah dalam mengembangkan sebuah kawasan ekowisata adalah membuat kebijakan pariwisata. Secara sederhana kebijakan pariwisata dapat diartikan sebagai, kebijakan yang mengidentifikasi sasaran-sasaran serta tujuan-tujuan yang membantu agent dalam proses perencanaan industry pariwisata. Ekowisata berbasis masyarakat merupakan usaha pariwisata yang menitikberatkan peran aktif komunitas (Baskoro, 2016).
Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana kondisi umum lokasi air terjun Lae Simbilulu?
2. Bagaimana kemajuan sektor pariwisata di air terjun Lae Simbilulu?
3. Apakah bisnis yang dapat dikembangkan pada ekowisata di air terjun lae Simbilulu?
1.2 Tujuan
1. Untuk mengetahui kondisi umum air terjun Lae Simbilulu
2. Untuk mengetahui kemajuan sektor pariwisata pada air terjun Lae Simbilulu.
3. Untuk mengetahui bisnis yang dapat dikembangkan di air terjun Lae Simbilulu.
BAB II
ISI
2.1 Kondisi Umum Air Terjun Lae Simbilulu
Air terjun simbilulu atau biasa disebut Lae Mbilulu oleh warga setempat adalah salah satu air terjun yang berada di Kabupaten Pakpak Bharat, tepatnya di di desa Progil Julu Kecamatan Tinada Kabupaten Pakpak Bharat Provinsi Sumatera Utara. Air terjun ini sering disebut air terjun kembar karena memiliki 2 ai terjun padahal itu adalah sungai yangdibelah oleh batu yang berada ditengahnya sehingga menjadi dua air terjun, memiliki ketinggian ±40 meter dan terdapat kolam penampung dibawahnya dan menjadi tempat pemandian bagi pengunjung.
Air terjun Simbilulu merupakan destinasi wisata yang paling banyak dikunjungi oleh warga lokal maupun luar. Berjarak ±173 Km atau 5 jam perjalanan dari kota Medan dan melewati jalan yang berliku serta pemandangan alam yang bagus. Akses jalan ke air terjun tersebut terbilang belum cukup baik, akses jalan banyak yang rusak dan belum aspal permanen. Namun hal tersebut tidak menyurutkan minat wisatawan untuk berkunjung ke air terjun Lae Simbilulu karena memiliki pemandangan yang bagus serta fasilitas yang cukup memadai dan banyak spot foto yang indah.
2.2 Perkembangan Sektor Pariwisata di Air Terjun Lae Simbilulu
Perkembangan sektor pariwisata di air terjun Lae Simbilulu terbilang cepat. Potensi air terjun tersebut sangat cocok untuk dikembangkan mengingat banyaknya pengunjung yang berwisata ke air terjun Lae Simbilulu. Tak hanya keindahan air terjunnya yang menarik wisatawan untuk berkunjung, terdapat juga flora dan fauna serta peninggalan nenek moyang seperti mejan yang dapat dilihat dijalan menuju air terjun Lae Simbilulu sebagai wisata sejarah. Beberapa tahun lalu, belum banyak spot-spot atau tempat yang dapat dijadikan tempat foto ataupun sekedar beristirahat serta banyak bebatuan yang licin dan susah untuk berjalan.seiring berjalannya waktu, telah banyak pembangunan yang dilakukan oleh warga setempat dan dibantu oleh pemerintah. Fasilitas-fasilitas yang disediaka juga cukup baik, seperti jembatan penghubung agar tidak melewati bebatuan yang licin, spot foto dan tempat duduk yang hias sedemikian rupa. Terdapat juga kantin untuk berjualan, hanya saja harga makanan dikantin tersebut lebih mahal dari biasanya.
Setiap tahun, pengunjung di air Terjun Lae Simbilulu bertambah seiiring dengan banyaknya promosi yang dilakukan oleh wisatawan yang pernah berkunjung maupun oleh pemerintah. Strategi peningkatan ekowisata air Terjun Lae Simbilulu semakin tahun semakin baik, hal tersebut juga berdampak positif terhadap warga sekitar yang tinggal di Kecamatan Tinada khususnya Desa Prongil Julu lokasi air terjun tersebut. Jika hari libur, pengunjung biasanya akan ramai berdatangan dan warga disekitar memanfaatkan hal tersebut dengan menyediaan lokasi parkir yang ditarif dan dagangan warga yang berjualan akan laris. Hal tersebut dapat meningkatkan ekonomi warga sekitar, dan Kabupaten Pakpak Bharat akan semakin dikenali oleh dunia luar karena promosi yang secara tidak langsung yang dilakukan oleh pengunjung.
2.3 Bisnis yang Dapat Dikembangkan
Dalam UU No. 10 Tahun 2009 Tentang Kepariwisataan disebutkan bahwa daya tarik wisata adalah segala sesuatu yang memiliki keunikan, keindahan, dan nilai yang berupa keanekaragaman kekayaan alam, budaya, dan hasil buatan manusia yang menjadi sasaran atau tujuan kunjungan wisatawan. Selain air terjun, banyak hal yang dapat dikembangkan dan dijadikan bisnis pada sektor ekowisata. Misalnya bisnis arena bermain untuk anak-anak, mengingat pengunjung bukan hanya dari kalangan anak muda, terdapat juga keluarga yang berpiknik ria di sekitaran air terjun Lae Simbilulu. Untuk pengunjung luar daerah biasanya kesulitan mencari oleh-oleh khas Pakpak Bharat atau sekedar kenang-kenangan dari lokasi wisata yang mereka kunjungi karena masih minimnya usaha dalam bidang oleh-oleh yang berada di sekitar objek wisata tersebut. Hal ini dapat menjadi peluang bisnis untuk warga setempat dan menjajakan barang dagangannya disekitaran objek wisata air terjun Lae Une, terutama saat libur akhir pekan maupun libur nasional disaat pengunjung melonjak tinggi.
Masyarakat yang tinggal disekitaran air terjung Lae Simbilulu mayoritas berprofesi sebagai petani serta memungut hasil hutan karena lokasi mereka yang sangat berdekatan dengan kawasan hutan. Menurut Supratman (2007), Aktivitas masyarakat di dalam kawasan hutan pada dasarnya terbagi dua yaitu, pemanfaatan kawasan hutan sebagai lahan usahatani, dan pemungutan hasil hutan. Hasil usaha tersebut sebagian besar dikonsumsi sendiri secara langsung, dan sebagian lainnya dijual dalam bentuk bahan mentah dan atau dijual setelah diolah lebih lanjut seperti usaha produksi gula aren. Hal ini juga dapat dimanfaatkan oleh warga sekitar sebagai peluang bisnis yang dapat dikembangkan, baik dalam bentuk makanan, souvenir dan lain-lain yang bahan utamanya adalah hasil hutan bukan kayu.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1. Air Terjun Lae Simbilulu berada di Desa Prongil Julu, Kecamatan Tinada Kabupaten Pakpak Bharat yang berjarak ±173 km dari Kota Medan.
2. Akses jalan ke air terjun tersebut terbilang belum cukup baik, akses jalan banyak yang rusak dan belum aspal permanen.
3. Tak hanya keindahan air terjunnya yang menarik wisatawan untuk berkunjung, terdapat juga flora dan fauna serta peninggalan nenek moyang seperti mejan yang dapat dilihat dijalan menuju air terjun Lae Simbilulu sebagai wisata sejarah.
4. Masyarakat setempat turut ikut serta dalam pembangunan dan pengembangan potensi objek wisata air terjun Lae Une.
5. Semakin meningkatnya pengunjung air terjun Lae Simbilulu berdampak positif bagi masyarakat terutama dalam bidang ekonomi.
DAFTAR PUSTAKA
Baskoro, M. S. P. 2016. Pengelolaan kawasan ekowisata berbasis masyarakat serta implikasinya terhadap ketahanan masyarakat desa Sukarara. Jurnal Green Growth dan Manajemen Lingkungan, 5(2), 18-28.
Haryanto, J. T. 2014. Model pengembangan ekowisata dalam mendukung kemandirian ekonomi daerah studi kasus provinsi DIY. Jurnal Kawistara, 4(3).
Herman, N., dan Supriadi, B. 2017. Potensi Ekowisata dan Kesejahteraan Masyarakat. Jurnal Pariwisata Pesona, 2(2), 12.
Priono, Y. 2012. Pengembangan kawasan ekowisata Bukit Tangkiling berbasis masyarakat. Jurnal Perspektif Arsitektur, 7(01), 51-67.
Supratman, S. 2007. Pengembangan Usaha Masyarakat di dalam Kawasan Hutan (Studi Kasus Masyarakat Desa-desa Sekitar Areal Iuphhk di Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat). Jurnal Hutan dan Masyarakat, 2(3), 8181.
LAMPIRAN



Komentar
Posting Komentar